Senin, 26 September 2011

FILSAFAT HIDUP                           MEMPERMUDAH                          ORANG  MINANGKABAU           DALAM MEMBINA IMAN ISLAMI !                   

( 2 ). ALAM TA KAMBANG JADI GURU  

        (Ampo barek jo antimun bungkuak)
 
Panakik pisau sirauik
ambiak galah batang lintabuang
silodang ambiak ka niru

nan satitiak jadikan lauik
nan sakapa jadikan gunuang
alam takambang jadi guru

Oleh : Uni Marni Malay 

Ya, ' Alam ta kambang jadikan guru', subhanallah !
Alangkah bodohnya kita yang tak peduli akan alam sekitar kita, apapun itu, pada hal apapun yang dijadikan Allah tentu ada maksudnya, seperti misalnya ;

" ampo barek jo antimun bungkuak."

Ampo barek, adalah padi yang tidak berisi beras, namun ketika di indang (ditampih) tidak terbuang karena beratnya sama dengan padi yang berisi, untuk itu dahulunya oleh petani padi disisihkan /dipisahkan secara manual dengan tangan dari padi yang berisi, biasanya di jadikan makan itik/bebek.
Adapun antimun bungkuak, adalah buah ketimun yang bungkuk, biasanya oleh pedagang tidak dihitung atau dihargakan,melainkan hanya sebagai penambah atau bonus belaka.

Demikian dengan konsep budaya ' alam ta kambang jadi guru', apapun menjadi perhatian untuk dipelajari, tak terkecuali  dengan ampo barek dan antimun bungkuak, yang mana di Minangkabau tak jarang orang diibaratkan atau mengibartakan  diri mereka dan atau diperlakukan seperti demikian, yakni orang2 yang dalam kehidupan masyarakat temasuk ; orang yang selalu di sisihkan dan atau orang yang' tak manukuak tak manambah, masuak karuang lai masuak hitungan tidak.

Bahwa pengibaratan ini timbul di masyarakat, baik karena perlakuan yang tidak baik dari orang lain maupun akibat ulah yang bersangkutan sendiri yang tidak pandai menjaga kehormatan diri sehingga selalu dilecehkan orang, tidak mendapat penghargaan yang layak, selalu di kesampingkan tidak dianggap sama sekali, seperti digambarkan dalam pantum gurindam  berikut ;

Santano lai babuah labek
Lai kasanang urang ma ambiak
Tapi kok cando ampo barek
Tampan ka jadi umpan itiak

Itu di kami nan ma mabuak
Bukan manuntuik jaso baparak
Dagang kok cando antimun bungkuak
Ka karuang lai, dihituang indak

Guno tak lain ka panambah
Panukuak barang nan usak
Ka ta makan antah lah antah
Antah ka busuak dek taleak

Amboi.............., malang benar nasibnya !
Bahwa di tinjau dari konep ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH, memperlakukan  orang lain seperti ampo barek jo antimun bungkuak,  bahkan merendahkan, menganggap hina, dan tidak memandang sebelah mata pada orang tersebut, jelas tidak di bolehkan, karena  dengan konsep alam ta kambang jadi guru, semestinyalah manusia di perlakukan secara adil, seperti kata pepatah ;
' tagak samo tinggi duduak samo randah, ka bukik samo mandaki ka lurah samo manurun, lamak dek awak katuju dek urang ".

Bahwa orang mestu di hargai apapun keadaannya, mesti di perlakukan secara adil, karena apapun yang ada di alam ini adalah ciptaan Allah, mereka ada adalah atas kehendak dan izin Allah, yang sudah barang tentu bagaimanapun keadaannya setiap orang keberadaannya bermanfaat, dan termasuk dalam rencana Allah, bahkan seekor nyamukpun ;
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,(Al. Baqarah -ayat 26)

Ya, memetik pelajaran dari keberadaan seekor nyamuk atau yang lebih rendah dari itu  di isyaratkan Allah kepada kita, sehingga memperlakukan orang bagaikan ' ampo barek jo antimun bungkuak, jelas tidak selaras dengan tatanan budaya Adat basandi syarak sayarak basandi kitabullah. dan tentunya tergantung pada diri kita sendiri apakah dengan itu kita akan mendapat pe;ajaran atau tidak, akan bertambah iman kita atau malah menjadi tersesat !


Konon di Minangkabau ada pepatah yang berbunyi seperti ini :

- Nan buto pahambuih lasuang, nan pakak pamasang badia, nan lumpuah pahunyi rumah, nan patah pangajuik ayam, nan bingguang kadisuruah-suruah, nan cadiak bao baiyo, nan kayo bakeh batenggang;
- Nan tinggi panjuluak jantuang, nan randah pa ambiak lado, nan kuet paangkek baban, nan pandai tampek batanyo;
- Nan luruih katangkai sapu, nan bungkuak katangkai bajak, satampok
kapapan tuai, nan ketek kapasak suntiang, panarahan kakayu api, abunyo kapupuak padi.:
- Nan condoang makanan tungkek, nan lamah makanan tueh.

Sistim dan ajaran Adat Minangkabau, tidak membenarkan memperlakukan orang ibarat ' ampo barek jo antimun bungku, orang arus dihargai secara manusiawi, karena tidak ada bahan yang tidak berguna, tidak ada orang yang tidak dapat dimamfaatkan. Semua orang dapat dimamfaatkan, mulia hina, kaya dan miskin, sempurna, cacat, pandai dan bodoh., termasuk manusia lemah harus dibimbing dan dibantu, lebih-lebih kaum
wanita, yang qudrat hayatinya lemah dari kaum lelaki.
Subhanallah....!

Pepatah di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa tak patut kita merendahkan dan atau mengina orang dengan mengibaratkan dan atau memperlakukan sebagai ampo barek dan antimun bungkuak, dan apa bila kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari , tentu tidak akan ada lagi orang yang digelari seperti itu, karena setiap ciptaan Allah pasti ada manfaatnya, Alam takambang jadi guru.!(bersambung bagian 3)

Label

Translate

aku dan sabrina, my classmate

aku dan sabrina, my classmate